About

After completing his studies in the Netherlands as an Internist and Cardiologist, Dr. Tjong Gan Bing returned to his homeland. He began his career with all the limitations and conditions of Indonesia which are far behind. However, he brings forward European thinking.

On November 16th 1957, dr. Tjong Gan Bing declared the PERKUMPULAN KARDIOLOGI INDONESIA (Per.KI). He simultaneously served as Chairman, assisted by dr. Que Jade Sien as Secretary and dr. Soehardo Kertohoesodo as Treasurer. Per.KI establishment was preceded by the establishment of Perkumpulan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) on the same occasion in the same place, St. Carolus Hospital; Prof Dr. Biran served as Chairman of PAPDI, while dr. Tjong Gan Bing served as Secretary, and dr. Que Jade Sien became Treasurer. Both organizations stand together, merely because an awareness: “people need better services, because it needs more expert”.

Excerpts of dr. Tjong Gan Bing’s Speech on Per.KI Inauguration (In Bahasa Indonesia)

Dr. Gan Tjong Bing memang sudah selangkah lebih maju, apa yang ia lihat dan alami di Eropa selalu mewarnai pemikirannya. Berikut cuplikan pidatonya pada acara peresmian berdirinya Per.KI:

…………Saudara-saudara tentu akan menanyakan mengapa disamping Perkumpulan Ahli Penyakit Dalam (PAPDI) harus didirikan pula Perkumpulan Kardiologi Indonesia. Dalam kurun waktu lebih 10 tahun yang akhir ini, kemajuan-kemajuan di lapangan ilmu kardiologi agak pesat.

Dalam segala lapangan ilmu kedokteran, kita menemui munculnya dan majunya pathogenese dan phisiologi-pathologik dari keluhan-keluhan dan gejala-gejala penyakit-penyakit, disamping kelainan-kelainan anatomis. Juga ada unsur ketiga yang tidak kurang pentingnya, yaitu menyelidiki sebab musabab timbulnya penyakit-penyakit.

Ketiga faktor ini adalah:

  • Faktor-faktor kelainan genetik
  • Faktor kelainan phisiologi patologik dan faal
  • Faktor etiologik

Merupakan trilogi dan trilogi ini adalah penting sekali, juga bagi pengertian kita yang modern tentang penyakit-penyakit jantung.

Kemajuan dalam lapangan ilmu kardiologi sebagian besar disebabkan karena adanya cara-cara pemeriksaan baru ialah: 1) Penyadapan jantung (cardiac catheterization), 2) Angiokardiografi, 3) Ballistokardiografi, Vectorkardiografi, dan Elektrokardiografi. Pemeriksaan ini begitu cepat kemajuan-kemajuannya, hingga sukarlah bagi Internis Umum (Alg. Internist) untuk mengikuti dan menguasai kemajuan-kemajuan tersebut. Oleh karena itu, mudahlah kita maklumi (fahami) mengapa ilmu kardiologi sebaiknya terpisan dan mendapat tempat tersendiri disamping ilmu penyakit dalam, tentulah dengan kerjasama yang erat dengan ilmu penyakit dalam. Ilmu penyakit anak yang telah dipisahkan dari ilmu penyakit dalam, dan dalam beberapa negara lain ilmu penyakit paru, ilmu penyakit endokrin, penyakit gastrointestinalis dan ilmu penyakit saraf (neurologi) misalnya, sudah dipisahkan dari ilmu penyakit dalam.

Sekarang sudah tampak adanya tendensi bahwa, sekarang Internis Umum dikemudan hari akan menjadi koordinator diantara spesialis-spesialis penyakit-penyakit yang sekarang masih termasuk penyakit dalam. Juga masih terdengar adanya suara-suara dari para Internis Umum saja dengan perhatian terhadap ilmu kardiologi, daripada ilmu kardiologi terpisah daripada ilmu penyakit dalam. Tentulah akan lebih baik kalau sekiranya kardiolog yang dididik diharuskan lebih dahulu mengikuti pendidikan Internis yang lengkap, disamping mengikuti pendidikan kardiolog. Tetapi hal ini dalam prakteknya tidak mungkin, apalagi kalau mengingat negara kita yang dalam waktu sesingkat-singkatnya harus menyelesaikan pendidikan tenaga dokter dan spesialis sebanyak-banyaknya.

Bahkan di negara lainpun, yang keadaan sosial dan kesejahteraannya sudah jauh lebih maju dari negara kita, pendidikan kardiolog tidak diharuskan lebih dahulu mengikuti Internist yang lengkap, sebab juuga disanalah keadaan sosial tidak dapat dipertanggungjawabkan. Malahan kardiolog yang dididik secara ini, bila telah praktek toh tidak mengkin lagi tetap mengikuti dan menguasai kemajuan bidang-bidang penyakit dalam lainnya. Oleh karena itu menurut pendapat saya untuk pendidikan kardiolog, cukuplah disertai dengan dasar-dasar ilmu penyakit dalam. Sebaliknya kita harus mengetahui bahwa tanpa dasar-dasar ilmu penyakit dalam ini, pengetahuan kardiolog tidak akan  kemajuan kardiolog, dapat juga disertai dengan kemajuan chirurgi (chirurgi jantung), hingga banyaklah penderita-penderita penyakit jantung yang dulu tidak dapat disembuhkan, sekarang dapat ditolong hingga kita dapat mengembalikan kegembiraan hidup kepada mereka, dan mereka bisalah pula menjadi masyarakat yang berguna bagi masyarakat.

Sebagian besar daripada penyakit dalam terdiri dari penyakit jantung. Misalnya di Perancis dulu antara tahun 1887-1891, angka kematian penyakit jantung adalah hanya 7,70% dari pada angka jumlah kematian yang disebabkan karena penyakit-penyakit yang dikenal (untuk sebagian besar penyakit infeksi). Dalam masa tahun 1939-1940 angka 7,70% ini naik menjadi 17,30%. Kenaikan angka kematian karena penyakit jantung ini terutama disebabkan karena permautan (kematian) penyakit-penyakit lainnya (untuk sebagian penyakit infeksi) berkurang sebagai akibar dari adanya perbaikan hygiene. Di Amerika Serikat angka kematian karena penyakit kardiovaskular-renal, dalam tahun 1933 adalah 39,70%. Dalam tahun 1947 angka ini naik menjadi 49,80%. Bahkan di Negeri kita-pun, dimana keadaan hygiene masih sangat terbelakang, menurut statistik sementara yang dimuat Bagian Penyakit Dalam tahun 1956, angka kematian dari 12 pasien opname dengan penyakit jantung adalah +25%. Juga disinilah sudah diterangkan betapa pentingnya ilmu penyakit jantung untuk kesehatan masyarakat. Hanya dengan mengambil sikap perhatian dari keseluruhannya, kita dapat menghadapi seluruh persoalan itu sebaik-baiknya.