Pendekatan Kebijakan Publik dalam Pencegahan Penyakit Jantung

Policy Brief

Sidhi Laksono1, Ede Surya Darmawan2

1Magister Administrasi Rumah Sakit, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

2Kepala Program Studi Administrasi Rumah Sakit, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Korespondensi: Ede Surya Darmawan; Studi Administrasi Rumah Sakit, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Alamat: Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 12345, Email: edesurya@ui.ac.id

Berdasarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2020, sebanyak 70% kematian di dunia ini dikarenakan oleh penyakit tidak menular (PTM). Kematian akibat PTM tersebut 45%-nya dikarenakan oleh penyakit jantung dan pembuluh darah (17.7 juta dari 39.5 juta kematian). (WHO, 2020) Data riset kesehatan dasar (Riskesdas) dari kementerian kesehatan republik Indonesia tahun 2018 didapatkan prevalensi penyakit jantung berkisar 1,5%, prevalensi tertinggi pada provinsi Kalimantan Utara sebesar 2.2%, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Gorontalo dengan keduanya sebesar 2%. (Tim Riskesdas 2018)

Gambar 1. Prevalensi Penyakit Jantung (Tim Riskesdas 2018)

Hal tersebut memperlihatkan bahwa penyakit jantung menjadi pembunuh no 1 di Indonesia maupun dunia. Sehingga diperlukan kebijakan publik yang mudah dan bisa diterapkan di masyarakat luas. Pemerintah Indonesia pun telah melakukan beberapa kebijakan dengan mengeluarkan aturan dengan fokus pada upaya promotif dan preventif pencegahan penyakit jantung.

Diantaranya, Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 1 tahun 2017, yang difokuskan dalam deteksi dini, peningkatan aktivitas serta konsumsi buah dan sayur. Program Indonesia Sehat dengan pendekatan keluarga yang sejalan dengan agenda ke lima Nawacita yaitu meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia yang dimulai dari keluarga, sehingga anggota keluarga yang hipertensi dapat berobat teratur dan tidak ada anggota keluarga yang merokok. (Instruksi Presiden Republik Indonesia, 2017)

Kementerian Kesehatan pun mengeluarkan jargon “CERDIK”, yaitu Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat dan seimbang, Istirahat cukup dan Kelola stress. Juga, melakukan pola hidup “PATUH”, Periksa kesehatan secara rutin, Atasi penyakit dengan pengobatan yang tepat, Tetap aktivitas fisik denga naman, Upayakan diet sehat dan gizi seimbang, Hindari asap rokok, minuman beralkohol dan zat karsinogenik lainnya. (Kementerian Kesehatan, 2017)

Kementerian Kesehatan pun berperan dalam mengajak seluruh komponen untuk melakukan perubahan secara sederhana dala melakukan aktivitas harian dengan menerapkan perilaku CERDIK tersebut agar bisa terwujud jantung yang sehat dengan jargon “Jantung Sehat, SDM Unggul”. Diharapkan masyarakat luas memiliki kesadaran diri yang kuat akan bahayanya penyakit jantung dan berkontribusi secara tidak langsung untuk menurunkan angka mortalitas dan morbiditas akibat penyakit jantung tersebut. (Kementerian Kesehatan, 2017)

Selain itu, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia dan Yayasan Jantung Indonesia juga mengeluarkan singkatan yang hampir mirip dengan Kementerian Kesehatan, yaitu panca usaha “SEHAT”, Seimbang gizi, Enyahkan rokok, Hadapi stress, Awasi gula darah, kolesterol dan tekanan darah serta Teratur berolahraga. Diharapkan dengan SEHAT tersebut, para pasien yang datang ke Rumah Sakit juga dapat mengurangi angka kesakitan dan kematian akibat penyakit jantung. (Yayasan Jantung Indonesia, 2020).

Diharapkan dengan adanya berbagai kebijakan publik tersebut baik yang dikeluarkan presiden, kementerian kesehatan, perhimpunan dan yayasan, masyarakat dapat mengikutinya dan menerapkan dalam rangka mencegah sekaligus menguragi angka mortalitas dan morbiditas penyakit jantung di kemudian hari.

Daftar Pustaka

Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat.

Kementerian Kesehatan. Aksi Bersama Gerakan Masyarakat Hidup Sehat. Warta KESMAS, 2017; 01: 7-10.

Keputusan Menteri Kesehatan R.I. Nomor HK.02.02/Menkes/52/2015.

Tim Riskesdas 2018. Laporan RISKESDAS 2018. Lembaga Penerbit Badan Litbang Kesehatan, Jakarta, 2019.

World Health Organization. Global status report on non-communicable diseases 2020.

Yayasan Jantung Indonesia. Jaga Jantung dengan Gaya Hidup Sehat. Heartnews, 2020; III: 15-16.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *